You've got mail. <$BlogRSDUrl$>
<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5621222\x26blogName\x3dYou\x27ve+got+mail.\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://pyro23.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://pyro23.blogspot.com/\x26vt\x3d-1151650229955999858', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> <script type="text/javascript" src="http://www.makepovertyhistory.org/whiteband_small_right.js"> </script><noscript><a href="http://www.makepovertyhistory.org/"> http://www.makepovertyhistory.org</a></noscript>

Tuesday, April 26, 2005


Give me him and I'll be yours. Posted by Hello

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Monday, April 25, 2005

Alergi

Update: Baru kembali dari Camp Pemuda Gereja. Sebenarnya sangat tidak ingin ikut, dan mengomel terus karena merasa rugi. Benar" tidak ingin ikut. Kemudian ikut dengan terpaksa, dan pada hari terakhir Camp menjilat ludah sendiri. Yup, gue MENIKMATI camp itu. Thanks to everyone.

Now, down to business. Buat yg ngga tau, gue ini alergi. Ngga jelas alergi apa, tapi tebakan gue sih debu dan/atau cuaca dingin yg tiba". Tapi sepertinya ini alergi yg ngga tau diri (berasumsi bahwa ada alergi yg tau diri). Dia muncul kapan saja dan dimana saja dia mau. Menyebalkan. Namanya "kaligata", buat yg tau. Dia muncul sebagai bentol kecil yg sangat gatal. Dan bila digaruk menyebar menjadi bentol besar yg tidak lagi bundar bentuknya, tapi sudah saingan sama atlas dunia. Dan yg ini 3 dimensi, bisa disentuh! Sementara menulis ini, ada satu pulau besar di bagian dalam pergelangan tangan kiri gue, dan gue merinding setiap kali melihat ke arah situ. Menjijikan. Untungnya, bentol" ini ngga dan belum pernah muncul di wajah, jadi muka yg sudah hancur ini tidak tambah hancur. Bayangin aja ngerinya kaya apa.

Biasanya, setiap alergi ini muncul, gue pasti langsung dengan setia menggaruk sekenceng-kencengnya walaupun tau kalo dia akan menyebar dan akan tambah gatal dan akan tambah besar dan gue akan sering merinding" melihat bentol ekstra besar itu, tapi tetap aja gue garuk. Malam ini beda. Gue coba diemin, dan najisnya (!), dia TETAP menyebar. Dia mulai dari satu bentol kecil. Kemudian ada semacam areola merah di sekelilingnya. Seperti punya pentil ekstra berwarna putih. Kemudian dalam areola itu, muncul bentol" putih yg lain, yg lebih kecil. Yg lama" membesar dan menyatu. Jadilah pulau ini, dan masih menyebar dan berkolonisasi di pergelangan dalam tangan gue ini. Hingga sekarang, diameternya kira" 3 senti, belum menghitung pulau" lain di sekelilingnya. Belum juga menghitung yg ada di bagian tubuh lain. Sejujurnya, gue udah sangat gatal dan pengen banget ngegaruk, tapi tahan diri. Setelah menulis ini, gue langsung akan minum obat.

Yg lebih menyebalkannya lagi, sementara gue diem merhatiin alergi ini, gue tiba" mendapat satu pikiran bahwa alergi ini sangat relevan dengan sikap gue dalam menghadapi masalah. Mulai dari satu, kecil, yg dianggap menyebalkan dan digaruk. Menyebar, menjadi besar, merinding setiap melihat ke arah situ, memikirkannya, tapi diam. Garuk terus, kegatalan. Masalah tidak selesai. Atau, mendiamkan. Dan masalah bermultiplikasi, koloni masalah" kecil yg menyatu dan menjadi besar, tapi terus didiamkan.

Apa susahnya sih minum obat??

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Friday, April 22, 2005

Say Cheese!

Ada sesuatu yg aneh antara gue dan senyum. Gue sangat sangat suka bikin orang laen senyum atau ketawa, tapi gue sendiri agak males senyum. Ngga murah senyum, sampai" kesannya gue tuh angkuh. Sumpe deh, gue ngga sombong koq. Cuma males senyum aja. Dan kalau senyum, males"an. Hehehe...

Buat yg udah jadi korban" senyum addiction gue, maap ya. Tapi gue bener" suka liat kalian senyum. Senyum kalian itu indah. Makanya gue terus menerus minta kalian senyum, minta kalian ketawa. Gue bukan muluk" atau gombal" dengan bilang kalo gue suka liat kalian senyum, karena itu tulus. Gue cinta senyum kalian. Senyum kalian itu bikin hati gue lebih ringan. Makanya gue selalu nyoba bikin kalian senyum. Your smiles literally save my life, every single day. Jadi, please, keep smiling, if not for me, then for everyone else.

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Thursday, April 21, 2005

Closer To Home

Gunung" berapi mulai aktif lagi di Indonesia. Gempa" di berbagai propinsi, sampai Bandung, yg sangat dekat dengan Jakarta, sangat dekat dengan keluarga dan banyak orang yg disayang. Bencana" ini mulai lebih terasa, mulai dekat ke rumah.

Mungkin karena sudah terbiasa melihat mereka yg terkena bencana entah di ujung dunia mana di layar televisi dan bersimpati. Cukup bersimpati. "Kesian ya...". Kemudian, terjadi pada orang" yg terdekat, orang" yg kamu kenal, kamu pernah dengar suaranya, pernah bercakap-cakap dengan kamu, orang yg kamu sayang, and then it hits you, and it hits you hard.

Semua ini bisa terjadi ke kamu dan orang" yg kamu kenal. Sekarang kamu yg ada di televisi, dan orang" lain yg memandangmu dan bersimpati. Cukup bersimpati. Dan sekarang kamu yg menangis, mengundang iba, dan rumahmu yg hancur, ibu"mu menangis karena kehilangan anak"nya, anak"mu menangis karena tidak lagi punya orangtua, dan kotamu yg hancur tak berbentuk. Wajahmu yg menghias berita hari ini di layar kaca mereka. Giliran mereka yg mengasihani kamu, bersimpati, turut sedih, dan mengambil remote, mengganti channel...

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Thursday, April 14, 2005

Kiamat

Dunia sudah mau kiamat. Berapa ribu kali saya dengar itu diucapkan berapa ribu orang? Heh. Kalo menurut saya, dunia sudah kiamat. Kenapa?

Dunia sudah kiamat sejak entah berapa lama yg lalu. Saat penemu-penemu dan ahli-ahli kimia mulai mendapat ide-ide "cemerlang" dan bahan-bahan kimia baru yg "mencengangkan" dan pastinya akan "berguna" bagi kehidupan seluruh umat manusia. Saat negara-negara bodoh mengetes rudal-rudal nuklir milyaran dolar di lahan "kosong" sementara mayoritas rakyatnya masih bertanya-tanya besok bisa makan atau tidak. Ketika pemimpin berubah nama jadi diktator, ayah memandang putri dengan birahi, kehormatan direnggut kenikmatan sesaat, kejahatan menjadi tontonan, dan diputar jam 12 siang saat anda melahap makanan. Kiamat sudah.

Kita ini generasi Coca-Cola, Playstation 2, World Wide Web, pornografi gratis, seks bebas, cyber sex, virus-virus kimia buatan laboratorium, cloning, terorisme, night club, night life... generasi gothic, punk, rock, underground, emo... Calvin Klein, Britney Spears, Microsoft, Nokia... generasi "cuek is the best", "you know you want me", "life sucks", dan "i want to die young". Tren dan advertensi menyeret kita hidup seperti apa yg mereka bilang, mengikuti gaya mana yg kata mereka keren, cool, funky, gaul, whatever. Kita merasa pe de dan nyaman dalam sepatu Dolce and Gabbana 700 dolar yg nasibnya juga sama dengan sendal jepit biasa. Tas Louis Vuitton satu juta lima ratus ribu rupiah yg hanya memuat dompet, hape ekstra mini dari Ericsson yg tombolnya sebesar beras, dan satu lipstik Revlon yg membuat bibir terlihat lebih penuh dan seksi, dan tidak bisa hilang hanya dengan diusap dengan tissue sehingga tahan lama sehari penuh dan hanya bisa dihilangkan dengan krim putih Revlon yg tidak hanya menghilangkan lipstik itu, tapi juga membersihkan dan menjaga keremajaan kulit, berapapun umur anda, karena anda begitu berharga. Mungkin memang dia cantik, tapi mungkin karena Maybelline?

Saya sudah yakin, generasi kita ini sudah hancur, akan semakin hancur, dan dunia sudah kiamat. Sampai tadi siang.

Saya menengok ke atas, ke arah satu balkon apartemen putih di pinggir sungai (great view, great price) di Perth, dan memandang dua orang anak muda berpakaian putih dan berpeci putih, sedang sholat. Seorang remaja putri berpakaian rapi turun dari bus membawa sebuah Alkitab, baru pulang dari Gereja. Seorang biksu wanita menjadi pelajar di UWA, menghabiskan banyak waktunya di perpustakaan.

Saya berubah pikiran. Mungkin, masih ada harapan. Mungkin, dunia belum kiamat. Mungkin... karena Maybelline?

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Sunday, April 03, 2005

Give it a title

kebiasaan saya dulu
mendengarkan kamu
melihat tingkah lakumu
dan marah
kesal
berkomentar
benarkan itu
saya tidak suka
ganti gayamu
tidak pantas
selalu begitu
saya berkomentar
mengomentari kamu

saya mundur sebentar
menatap saya

saya punya kebiasaan baru
mendengarkan kamu
melihat tingkah lakumu
dan marah
kesal
tapi diam
biarkan kamu
kamu bukan urusanku
begitu juga hasil kelakuanmu
sekarang saya diam
dan hanya menatap kamu
menatap hingga bola mata saya berdebu
tertutup debu bosan
bosan menatap tingkahmu

kebiasaan saya bertambah satu
setelah mata saya berdebu
saya melihat kamu
jatuh
terguling
karena kebodohanmu
dan saya tetap diam
tapi di dalam
saya terbahak di dalam
tertawa hingga keluar air mata
air mata tertawakan kamu
kamu dan kebodohanmu
ternyata lebih enak menertawakan kamu
daripada memarahi kamu
mengomentari kamu
walau mata saya kini berdebu
debu bosan menatap kamu
mungkin nanti kebiasaan saya bertambah lagi
berhenti menatap kamu

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

This page is powered by Blogger. Isn't yours?