You've got mail. <$BlogRSDUrl$>
<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5621222\x26blogName\x3dYou\x27ve+got+mail.\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://pyro23.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://pyro23.blogspot.com/\x26vt\x3d-1151650229955999858', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> <script type="text/javascript" src="http://www.makepovertyhistory.org/whiteband_small_right.js"> </script><noscript><a href="http://www.makepovertyhistory.org/"> http://www.makepovertyhistory.org</a></noscript>

Wednesday, June 27, 2007

Renungkan. 

Hari ini, taruh pikiranmu dalam kepala seorang ibu. Jalani hidupnya sebentar. Mungkin nanti kamu mengerti.

Beberapa hari lagi anaknya lahir. Dia bingung, bimbang. Apakah dia akan jadi ibu yg baik? Akan mirip siapa anaknya? Bagaimana kalau dia tidak sanggup jadi orangtua yg sempurna? Akan lahir normalkah anak ini? Akan pintarkah dia?

Hari ini anaknya lahir, dan dia sadar bahwa dia tidak perduli bagaimana bentuk fisik dan psikisnya. Yg terpenting adalah, sekarang dia betul-betul jadi ibu. Benda kecil yg ditimangnya itu datang dari dalam tubuhnya sendiri. Makan makanannya, minum minumannya, berbagi jiwa dengannya. Satu ruang dalam hidupnya terisi. Dia bahagia.

Dia lelah. Ternyata mengurus anak itu tidak seperti punya binatang peliharaan atau main ibu-ibuan. Ternyata anak ini harus diberi makan tepat waktu, kalau tidak teriakannya tidak main-main. Anak itu menangisnya tidak tahu waktu, tidak tahu malu, dan tidak tahu kalau orang sedang tidur dan sekarang jam 3 pagi. Tapi dia tahu dia harus bangun. Jadi dia paksa buka matanya dan menyeret diri ke sisi anaknya, memberi dia makan. Walaupun dia baru terbangun satu jam yg lalu dan harus bangun lagi dalam dua jam.

Dia bahagia. Anaknya sudah melakukan beribu hal pertama. Pertama kali berjalan, pertama kali bangun sendiri dari duduk, kata pertama, senyum pertama... untuk semuanya dia berusaha ada disana. Dia mau jadi yg pertama melihat semuanya, karena dia tahu kalau semua yg pertama hanya datang sekali. Betapa bangganya dia, walaupun kata pertama anaknya bukan "mama".

Dia kuatir. Ini hari pertama anaknya masuk TK. Dia tidak akan tahu apa yg dilakukan anaknya selama 3 jam mereka berpisah, dan tidak boleh juga dia tinggal duduk disana untuk mengamati. Dia harus melepas anaknya pergi tanpa diawasi, dan harus mempercayakan anaknya dalam asuhan guru-gurunya. Ah... seandainya dia bisa berdiri disana, menjaga anaknya. Tapi dia tahu, ini tahap pertama dalam ribuan perpisahan lainnya. Ini baru awal, dan 3 jam lagi dia anaknya akan kembali kerumah. Jadi dia kuatkan diri, peluk anaknya, cium kedua pipi, dan memaksa diri melangkah pergi.

Begitu cepat waktu berlalu. Anaknya sudah punya banyak teman. Sudah mulai malu terlihat jalan dengan ibunya. Dia sudah mulai tenang, tahu bahwa anaknya mampu berkawan, tapi ada sedikit sakit bila tahu kalau anaknya malu bila disebut "anak mama". Tapi dia tidak akan pernah beri tahu siapapun itu.

Anaknya sudah mulai pacaran. Dia kembali kuatir. Bagaimana kalau pacarnya bukan anak baik-baik? Bagaimana kalau nanti hati anaknya disakiti? Bagaimana kalau anaknya terlibat hal-hal yg sering dia lihat jadi judul sinetron? Kawin muda-lah, Pernikahan dini-lah, semakin dia takut malah semakin trendi di TV. Anaknya terlihat enggan untuk mengenalkan pacarnya padanya. Apa karena pacarnya anak nakal? Seperti apa orangtuanya? Hubungan mereka... sudah sampai dimana? Kenapa anaknya tidak suka berbagi dengannya, memberi tahu tentang pacarnya? Dia takut anaknya akan dibawa pergi, tapi dia gelengkan kepala, katakan pada diri sendiri bahwa anaknya mulai belajar mandiri. Ini seperti hari pertama di TK, sekali lagi.

Anaknya sudah sangat jarang ada dirumah karena tiap hari pasti pergi dengan pacarnya berdua saja, jadi seharusnya dia sudah terbiasa dengan tidak adanya anaknya dirumah. Tapi setiap hari rasanya sepi. Kemana anaknya pergi? Kenapa tidak mau menghabiskan waktu dengan ibunya? Setiap kali ada satu hari saja anaknya dirumah dan tidak pergi, serasa seperti surga, karena datangnya sangat jarang. Dia berusaha supaya anaknya menghabiskan waktu dengannya. Mengobrol, menonton, apapun asal berdua. Tapi anaknya malah sibuk dengan hal-hal lain yg... yah... menurutnya lebih penting. Atau menelepon pacarnya dan ngobrol berlama-lama. Dia kesal, dan akhirnya memarahi anaknya. Anaknya balik marah, dan menuduh dia seperti tidak tahu rasanya jadi orang muda. Bukan itu yg dia mau. Bukan itu maksudnya. Dia tidak ingin marah. Dia hanya rindu.

Hari ini seharusnya hari bahagia. Anaknya memutuskan untuk menikah dengan pacarnya. Tapi dia sedih, karena ini betul-betul selamat tinggal. Ia senang karena anaknya sudah bisa mandiri, sudah mampu hidup sendiri dan menghidupi pasangannya. Ia bahagia karena ia ternyata bukan ibu yg buruk, walaupun tidak sempurna. Ia senang karena anaknya sudah dewasa. Tapi ia sengsara, karena mulai hari ini, anaknya tidak butuh dia lagi.



Seconds before you die, your whole life flashes before your eyes. Every single day, everytime your mother sees you and how you've grown, you whole life flashes before her eyes. Ever thought of that?

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Sunday, June 24, 2007

Surprise... 

I know. Biasanya kata "surprise" itu diikutin sama tanda seru, tapi sayangnya, dalam konteks ini kejutannya ngga bagus. Come to think of it, ngga semua kejutan itu bagus kan? Some just leave you lying ngejogrok di lante, lemes.

You can't count on people. Loe ngga bisa dengan yakin dan percaya tau kalo seseorang itu akan selalu ada disitu buat elo, no matter what, through thick and thin, no matter how annoying and bawel you will ever be. At the end, akan ada waktu dimana dia sadar bahwa elo itu menyebalkan, dan membosankan, dan ternyata elo ngga semenarik yg dia kira dulu. Ternyata you're just another new person in their life, yg akhirnya akan bikin dia jenuh. Loe bukan their court jester anymore. Now you're just the annoying girl next door. Dan apa yg orang lakukan dengan hal-hal yg membosankan? Of course, cari yg baru. You can't count on people to love you forever. Surprise...

Loe kira hidup loe udah mulai content. Semua mulai jalan sesuai mau loe. Terus loe sadar kalo sebenernya bukan itu yg loe mau. Loe mau lebih. Loe selalu mau lebih. Kalo sekarang gaji loe segitu, loe mau tambah. Kalo sekarang loe kerja disitu, loe mau pindah. Dari dulu loe mau punya kamar sendiri, sekarang loe punya, tapi loe ngga hepi. Loe mau balik lagi, sharing kamar sama satu atau dua orang lain. Loe sadar kalo kamar sendiri itu sepi. Loe seneng udah ngga perlu bergantung lagi sama orangtua buat uang, tapi loe sadar kalo ternyata hal-hal kecil kaya gitu yg masih ngiket elo sama orangtua loe. Kapan terakhir loe telpon bonyok loe dirumah? Akhirnya kejadian lagi. Loe kehilangan, tanpa mereka harus bener-bener hilang. Surprise...

Loe kira temen-temen loe akan selalu jadi ruang nyaman loe. Dimana ada loe, ada mereka. Dimana ada mereka, ada loe. Dan tiba-tiba loe sadar kalo ternyata selama ini, loe cuma denger tertawa mereka di ruang-ruang lain. Loe ada dimana? Ternyata ruang nyaman loe, ngga seruangan sama loe. Surprise...

Loe buka-buka friendster (omg masih jaman?). Loe liat foto si ini, si itu, orang-orang yg dulu ngewarnain hidup smp sma elo, dan loe kangen. Sumpah, loe kangennya ngga nahan, terus loe sadar kalo loe ngga pernah keep contact sama mereka. Loe ngga pernah sms, telpon, kirim email, apapun yg bikin mereka terus ada di hidup elo. Dan sekarang elo ngga bisa tiba-tiba sok akrab, karena loe ngga tau apa yg bakal loe bilang kalo mereka tanya, "Selama ini loe kemana aja?". Surprise...

Loe kira loe pinter. Surprise...

I've said "surprise" so many times now it means nothing. Bego. Dan iya, gue sedang curhat. Surprise!!!

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

Wednesday, June 06, 2007

Previously posted in DepressYourself 

I want it. I want it all. Right now. I want the works.

I want the warmth in the night. The stolen kisses and quick hugs. I want the strolls in the parks and feeding ducks in the ponds. I want the closeness and I want the intimacy.

I want hot breaths on my skin. I want the tap on my shower door and the smile when it opens. I want the naughty messages and playing footsie under my parents' dinner table.

I want sex on the couch. Sex on the kitchen table. Sex on the kitchen floor. Sex on the rug. Sex in the rug. Sex on green grasses in the parks while looking at ducks in the ponds.

I want the kisses on my eyelids. I want the feel of skin on skin while the morning sun shines on my white sheets. I want the morning kiss. I want the warm wake up nudge.

I want to wake up to you and say, "Baby, I'm so glad my husband is away".

|

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

This page is powered by Blogger. Isn't yours?